Wednesday, December 18, 2013
Sunday, August 25, 2013
POTENSI WISATA ALAM DI MALUKU UTARA
Obyek wisata yang ada di Provinsi Maluku Utara adalah :
1. Pantai Manaf,
salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat Sanana. Lokasi pantai tersebut terletak kurang lebih 11 Km sebelah selatan dari ibukota kecamatan. Pantai yang berpasir putih dengan pemandangan alam pantai yang menarik, ombak yang tidak besar dan tenang sehingga aman untuk berenang dan memancing serta berjemur.
2. Danau Duma dan Makete,
Kedua Danau ini terletak di sebelah Utara Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara tepatnya di Lokasi Agro perkebunan pisang Calvendis. dengan memiliki panorama alam yang cukup indah serta airnya yang cukup tenang sehingga cocok untuk renang dan dayung. Lokasi ini dapat di capai dengan berbagai jenis kendaraan dari ibukota kecamatan dengan jarak 8 Km.
3. Danau Ngade dan Danau Tolire,
Kedua danau ini dapat dijumpai di Pulau Ternate. di sekeliling danau ini terdapat panorama alam yang menarik seperti tebing, tumbuh - tumbuhan air. di danau Ngade karena airnya tenang sangat cocok untuk dilakukan olah raga jet ski. dapat ditempuh dengan kendaraan umum selama 20 menit dari pusat kota.
4. Air Terjun Cibicebi,
Air terjun Cibicebi dengan ketinggian 14 meter mengalir ke sungai Waci dan bermuara ke pantai antara dua desa yaitu desa Waci dan Petetelei. untuk mencapai air terjun menempuh jarak kurang lebih 7 km dari waci dengan menggunakan perahu bermotor dalam waktu 30 menit. Buaya, Gurame, dan Bandeng adalah penghuni Sungai Waci.
5. Kepulauan Kayoa,
kepulauan Kayoa terdapat gugusan kepulauan yang sangat menarik perhatian para wisatawan karena dihampir setiap pulau memiliki berbagai jenis karang yang indah dan biota laut serta berbagai jenis ikan yang jumlahnya cukup banyak. pulau yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Pulau Lelei dan Gura Ici karena disekitar pulau ini memiliki pasir putih yang halus dan taman laut yang indah. sangat cocok untuk berenang dan menyelam menikmati keindahan laut.
6. Pantai Kupa - Kupa dan Luari,
Kedua pantai ini terletak di Tobelo, Halmahera Utara. Memiliki Pasir Putih dan laut yang bersih dengan keindahan taman lautnya sangat cocok untuk perahu, berenang dan menyelam. dapat ditempuh dengan transportasi umum. selain kedua pantai tersebut didepan kota Tobelo dapat dijumpai pulau kakara, Tagalaya dan Tupu-tupu yang memiliki pasir putih dan taman laut yang indah.
7. Pulau Maitara,
Pulau Maitara adalah salah satu pulau dengan panorama indah yang terletak antara pulau tidore dan selatan Pulau Ternate. Pulau ini menyimpan berbagai kekayaan yang potensial untuk pengembangan pariwisata dimana sebagian lingkaran pantai berpasir putih dan terhampar di depannya alam bawah laut dengan keaneka ragaman ikan serta karang yang masih terpelihara dengan baik. pulau ini dapat dijangkau dengan speda motor hanya 15 menit dari pelabuhan bastiong Ternate.
8. Pulau Makian,
Pulau Makian adalah salah satu pulau yang pernah diduduki oleh bangsa portugis karena hasil cengkih. Pulau ini juga memiliki gunung api yang bernama kiye besi. Di Pulau ini juga terdapat tempat wisata seperti air panas di desa Pawate, di Pulau ini juga terdapat bentangan pasir yang bersih dan keindahan alam bawah laut, dan keindahan gunung Kiebesi.
9. Pantai Cobo,
Salah satu tempat wisata di Sebelah Utara Pulau Tidore yang terkenal dengan keindahan pantainya. Dari tempat ini dapat dilihat pulau - pulau lain disekitarnya seperti Pulau Halmahera dan Sidangoli. Dari tempat ini juga wisatawan dapat menikmati keindahan pada saat terbit dan terbenamnya Matahari, serta pemandangan lalulalangnya para nelayan.
10. Pulau Zum - zum,
Pulau Zum - zum, terletak di depan kota Daruba Morotai Selatan jarak kira kira 2 Km, sebuah pulau kecil dengan pasir putih yang indah. Di pulau ini juga sebagai tempat peristirahatan Jenderal MC Artur, pimpinan pasukan sekutu pada perang dunia II.
11. Pulau Dodola, Morotai,
Pulau ini tidak berpenghuni, terletak di depan Daruba, Morotai selatan sekitar 5 Km. Kedua pulau ini dikelilingi oleh pasir putih yang panjangnya 16 Km dapat dicapai dengan motor lokal dari Daruba. Pulau ini sangat cocok untuk berenang, berenang, menyelam dan berjemur dengan keindahan karang dan ikan. selain pulau Dodola terdapat juga Pulau-pulau kecil lainnya tang tak kalah menariknya seperti : Pulau Kokoya, Ngele-ngele, Galo-galo yang terletak disekitar pulau Dodola.
12. Taman Laut Pulau Widi,
Widi adalah pulau kecil dari Kep. Widi dan Pulau kecil terletak di Kec. Gane Timur, memiliki pasir Putih dan bersih dengan sejumlah ikan-ikan kecil dan besar serta jenis karang yang indah, sangat cocok untuk berenang, menyelam, dan berjemur.
13. Gua Sagea,
Terletak 5 Km dari Sagea Kecamatan Weda Kabupaten Halmahera Tengah dengan lebar pintu masuk 20 m2, Panjang kedalaman goa di perkirakan mencapai 30 Km.
Thursday, August 22, 2013
Wednesday, August 21, 2013
SULTAN TERNATE,
SULTAN
MUDAFAR SYAH (SULTAN TERNATE,1938- sekarang)
Sultan
Mudafar Syah lahir di Ternate Maluku Utara pada tanggal 13 April
1938. Pada waktu perang Asia Pasifik (Perang Dunia II) tahun 1944,
bersama orang tua dan kerabatnya diungsikan oleh Tentara Sekutu ke
Australia sselama satu tahun setengah. Setelah perang dunia
berakhir,mereka kembali ke Ternate.
Sultan
Mudafar Syah menempuh pendidikan SR,SMP,dan SMA di Ternate,Makasar
dan Jakarta. Pada tahun 1967- 1968 melanjutkan pendidikan
keperguruan tinggi swasta Universitas Swasta Chairun di Ternate
dan merahi gelar Sarna Muda dalam bidang Ilmu Hukum tahun 1970.
Pada tahun 1971-1977 diangkat menjadi anggota DPRD Tingkat II
Maluku Utara dan pada tahun 1978-1988 sebagai a nggota DPR/MPR
RI dari
Propinsi Maluku. Sultan. Sultan Mudafar Syah melanjutkan
pendidikan sarjananya pa da Fakultas Satra Jurusan Ilmu Filsafat
Universitas In do nesia Di Jakarta dan berhasil menamatkan
pendidikannya tahu 1984. Pada
tanggal 29 No vember 19186,Drs.Mudafar Syah dilantik
sebagai sultan Ternate oleh Lembaga Adat Tradisional Kesultanan
Ternate dalam hal ini Komisi Ngaruah yaitu komisi 4 bidang
Eksekutif dan Bobato Nyagimoi Se Tufkange yaitu Bobato 18 Bidang
Legislatif, dalam suatu upacara tradisio nal yang dikenal sebagai
Kabasarang Kolono di Istana Kesultanan Ternate.
Upacara
ini di hadiri oleh para pemangku adat an tara lain Bobato
Dunia,Bobato Akhirat,Keluarga Kesultanan Ternate serta masyarakat
sekitarnya. Sultan Mudafar Syah mendapat anugerah “ Upakarti ”
dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1990 atas
jasa-jasanya
TARIAN SOYA-SOYA
Alunan musik tifa dan gong membahana di Lapangan Ngara Lamo, Ternate,
Maluku Utara, Minggu (3/4/2011). Seketika itu pula, ribuan anak, mulai
dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, yang memadati lapangan
hingga ke ruas-ruas jalan yang mengitari lapangan bergerak bersama
menari.
Pakaian mereka seragam. Bandana berwarna kuning diikatkan pada kepala, pakaian putih-putih, dan rok berwarna-warni. Sambil memegang salawaku (tameng) di tangan kiri dan ngana-ngana (pedang) yang terbuat dari daun woka di tangan kanan.
Derap langkah, gerak ngana- ngana dan salawaku ditambah lagi semangat yang tebersit itu menyerupai semangat pasukan Sultan Ternate, yakni Sultan Baabullah, ketika hendak mengambil jenazah Sultan Khairun dari tangan Portugis di Benteng Sao Paulo, Ternate, sekaligus mengusir Portugis pada akhir abad ke-16.
Memang, pada era Sultan Baabullah atau Sultan Ternate Ke-24 inilah, soya-soya tercipta. Soya-soya saat itu dimaknai sebagai perang pembebasan dari Portugis. Sejak perang dikobarkan pasca-tewasnya Sultan Khairun tanggal 25 Februari 1570, kekuasaan Portugis jatuh tahun 1575.
Di era Baabullah ini pula, Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaannya dengan menjadi penguasa 72 pulau berpenghuni di wilayah timur Nusantara hingga Mindanao Selatan di Filipina dan Kepulauan Marshall.
Tidak dibayar
Selama hampir 30 menit, tarian soya-soya diperagakan. Sebanyak 8.125 penari turut serta. Hasilnya, mereka bisa mengukir prestasi sebagai rekor ke-4.816 Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Festival Soya-soya, nama dari acara tersebut, merupakan bagian dari pesta rakyat Maluku Utara, Legu Gam 2011, yang berlangsung hingga 16 April di Ternate.
”Tarian soya-soya merupakan bagian dari budaya Maluku Utara. Sejak masih kecil, anak-anak sudah mempelajarinya di kampung-kampung. Kemudian saat di sekolah dasar, tarian ini diajarkan lagi,” ujar Udin Ismail (45), warga Ternate yang anaknya turut serta dalam Festival Soya-soya.
Di Ternate, tarian ini memang menjadi muatan lokal yang wajib diajarkan. ”Seminggu sekali, setiap hari Sabtu, tarian itu diajarkan sebagai bagian dari pengembangan diri murid,” kata Kepala Sekolah Dasar Ngidi, Chadijah. Tarian lalu sering digunakan untuk menyambut tamu atau acara-acara adat.
Maka, tidaklah heran, ketika Panitia Legu Gam 2011 berinisiatif melaksanakan pencatatan rekor Muri untuk tarian massal, bukanlah suatu hal yang sulit.
Sekretaris Panitia Legu Gam 2011 Suryadi Syarif mengatakan, tim-tim kecil yang dibentuk panitia hanya butuh waktu satu minggu untuk melatih gerak tarian soya-soya di setiap sekolah. Setelah itu, hanya cukup satu hari geladi resik guna menyeragamkan gerak para penari. ”Mereka sudah tahu gerakan dasar soya-soya sehingga tidak susah melatihnya,” tambahnya.
Apriyadi (11), murid kelas VI SDN Ngidi, mengakui, ada perasaan malu jika anak laki-laki tidak bisa menarikan soya-soya. Terlebih lagi, gerak tarian yang seperti gerak prajurit, heroik, dan penuh tenaga itu mendorongnya untuk selalu semangat menarikannya. Inilah yang mendorong Apriyadi mempelajarinya sejak berusia 6 tahun.
Kebanggaan yang lahir pada anak-anak itu juga muncul pada orangtua mereka. Rasa bangga itulah yang membuat mereka rela menanti dari pukul 11.00 WIT sampai 16.30 WIT saat acara baru dimulai, di bawah terik matahari.
Rela pula mereka menyisihkan uang untuk membeli pakaian dan peralatan tari yang dibutuhkan. Harga pakaian tarian soya-soya tiba-tiba melonjak menjelang Festival Soya-soya. Jika biasanya hanya sekitar Rp 50.000, harganya naik menjadi Rp 150.000. Adapun ngana- ngana dan salawaku dibeli dengan harga Rp 50.000.
”Agar budaya tetap lestari dan anak-anak tahu sejarah keemasan Kesultanan Ternate di bawah Sultan Baabullah,” kata Sulaeman (40), warga Ternate yang anaknya juga turut serta dalam Festival Soya-soya. Semangat ini pulalah yang menjadi wajah dari Legu Gam, yang telah menjadi agenda rutin setiap tahun sejak sembilan tahun lalu atas inisiatif dari Kesultanan Ternate.
Aset wisata
Koordinator Sanggar Wahana Parada Nusantara Iskandar Pamungkas mengatakan, karena pesta digelar untuk rakyat, kelompok seni yang terlibat rela tidak dibayar.
Sudah bisa terlibat saja merupakan suatu kebanggaan. Karena itu, jumlah kelompok seni yang ingin terlibat tidak pernah surut.
Panitia Legu Gam mencatat, setiap Legu Gam, ada sekitar 70 sampai 100 kelompok seni yang mendaftar ingin terlibat. Kelompok seni ini tidak hanya menampilkan budaya yang berkembang di Ternate, tetapi juga yang berkembang di tiga kesultanan lain di Maluku Utara, yaitu Bacan, Jailolo, dan Tidore. ”Legu Gam telah menjadi wadah ekspresi bagi kelompok-kelompok seni di Maluku Utara sehingga mereka rela meski tidak dibayar,” lanjut Iskandar.
Wali Kota Ternate Burhan Abdurrahman mengatakan, pelestarian budaya Ternate tidak hanya berhenti pada Festival Soya-soya ataupun Legu Gam. Sejumlah acara budaya lain pun akan digelar, salah satunya Festival Kora-kora, perahu tradisional Maluku, yang direncanakan digelar pertengahan tahun ini.
Selain itu, pemerintah juga merencanakan membangun museum di Kadaton (Keraton) Ternate dan merevitalisasi lima benteng bekas peninggalan Belanda dan Portugis di Ternate.
”Kekayaan budaya, kekayaan peninggalan sejarah, keanekaragaman hayati bawah laut, dan pesona panorama Ternate menjadi modal pengembangan pariwisata di Ternate,” katanya.
Pakaian mereka seragam. Bandana berwarna kuning diikatkan pada kepala, pakaian putih-putih, dan rok berwarna-warni. Sambil memegang salawaku (tameng) di tangan kiri dan ngana-ngana (pedang) yang terbuat dari daun woka di tangan kanan.
Derap langkah, gerak ngana- ngana dan salawaku ditambah lagi semangat yang tebersit itu menyerupai semangat pasukan Sultan Ternate, yakni Sultan Baabullah, ketika hendak mengambil jenazah Sultan Khairun dari tangan Portugis di Benteng Sao Paulo, Ternate, sekaligus mengusir Portugis pada akhir abad ke-16.
Memang, pada era Sultan Baabullah atau Sultan Ternate Ke-24 inilah, soya-soya tercipta. Soya-soya saat itu dimaknai sebagai perang pembebasan dari Portugis. Sejak perang dikobarkan pasca-tewasnya Sultan Khairun tanggal 25 Februari 1570, kekuasaan Portugis jatuh tahun 1575.
Di era Baabullah ini pula, Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaannya dengan menjadi penguasa 72 pulau berpenghuni di wilayah timur Nusantara hingga Mindanao Selatan di Filipina dan Kepulauan Marshall.
Tidak dibayar
Selama hampir 30 menit, tarian soya-soya diperagakan. Sebanyak 8.125 penari turut serta. Hasilnya, mereka bisa mengukir prestasi sebagai rekor ke-4.816 Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Festival Soya-soya, nama dari acara tersebut, merupakan bagian dari pesta rakyat Maluku Utara, Legu Gam 2011, yang berlangsung hingga 16 April di Ternate.
”Tarian soya-soya merupakan bagian dari budaya Maluku Utara. Sejak masih kecil, anak-anak sudah mempelajarinya di kampung-kampung. Kemudian saat di sekolah dasar, tarian ini diajarkan lagi,” ujar Udin Ismail (45), warga Ternate yang anaknya turut serta dalam Festival Soya-soya.
Di Ternate, tarian ini memang menjadi muatan lokal yang wajib diajarkan. ”Seminggu sekali, setiap hari Sabtu, tarian itu diajarkan sebagai bagian dari pengembangan diri murid,” kata Kepala Sekolah Dasar Ngidi, Chadijah. Tarian lalu sering digunakan untuk menyambut tamu atau acara-acara adat.
Maka, tidaklah heran, ketika Panitia Legu Gam 2011 berinisiatif melaksanakan pencatatan rekor Muri untuk tarian massal, bukanlah suatu hal yang sulit.
Sekretaris Panitia Legu Gam 2011 Suryadi Syarif mengatakan, tim-tim kecil yang dibentuk panitia hanya butuh waktu satu minggu untuk melatih gerak tarian soya-soya di setiap sekolah. Setelah itu, hanya cukup satu hari geladi resik guna menyeragamkan gerak para penari. ”Mereka sudah tahu gerakan dasar soya-soya sehingga tidak susah melatihnya,” tambahnya.
Apriyadi (11), murid kelas VI SDN Ngidi, mengakui, ada perasaan malu jika anak laki-laki tidak bisa menarikan soya-soya. Terlebih lagi, gerak tarian yang seperti gerak prajurit, heroik, dan penuh tenaga itu mendorongnya untuk selalu semangat menarikannya. Inilah yang mendorong Apriyadi mempelajarinya sejak berusia 6 tahun.
Kebanggaan yang lahir pada anak-anak itu juga muncul pada orangtua mereka. Rasa bangga itulah yang membuat mereka rela menanti dari pukul 11.00 WIT sampai 16.30 WIT saat acara baru dimulai, di bawah terik matahari.
Rela pula mereka menyisihkan uang untuk membeli pakaian dan peralatan tari yang dibutuhkan. Harga pakaian tarian soya-soya tiba-tiba melonjak menjelang Festival Soya-soya. Jika biasanya hanya sekitar Rp 50.000, harganya naik menjadi Rp 150.000. Adapun ngana- ngana dan salawaku dibeli dengan harga Rp 50.000.
”Agar budaya tetap lestari dan anak-anak tahu sejarah keemasan Kesultanan Ternate di bawah Sultan Baabullah,” kata Sulaeman (40), warga Ternate yang anaknya juga turut serta dalam Festival Soya-soya. Semangat ini pulalah yang menjadi wajah dari Legu Gam, yang telah menjadi agenda rutin setiap tahun sejak sembilan tahun lalu atas inisiatif dari Kesultanan Ternate.
Aset wisata
Koordinator Sanggar Wahana Parada Nusantara Iskandar Pamungkas mengatakan, karena pesta digelar untuk rakyat, kelompok seni yang terlibat rela tidak dibayar.
Sudah bisa terlibat saja merupakan suatu kebanggaan. Karena itu, jumlah kelompok seni yang ingin terlibat tidak pernah surut.
Panitia Legu Gam mencatat, setiap Legu Gam, ada sekitar 70 sampai 100 kelompok seni yang mendaftar ingin terlibat. Kelompok seni ini tidak hanya menampilkan budaya yang berkembang di Ternate, tetapi juga yang berkembang di tiga kesultanan lain di Maluku Utara, yaitu Bacan, Jailolo, dan Tidore. ”Legu Gam telah menjadi wadah ekspresi bagi kelompok-kelompok seni di Maluku Utara sehingga mereka rela meski tidak dibayar,” lanjut Iskandar.
Wali Kota Ternate Burhan Abdurrahman mengatakan, pelestarian budaya Ternate tidak hanya berhenti pada Festival Soya-soya ataupun Legu Gam. Sejumlah acara budaya lain pun akan digelar, salah satunya Festival Kora-kora, perahu tradisional Maluku, yang direncanakan digelar pertengahan tahun ini.
Selain itu, pemerintah juga merencanakan membangun museum di Kadaton (Keraton) Ternate dan merevitalisasi lima benteng bekas peninggalan Belanda dan Portugis di Ternate.
”Kekayaan budaya, kekayaan peninggalan sejarah, keanekaragaman hayati bawah laut, dan pesona panorama Ternate menjadi modal pengembangan pariwisata di Ternate,” katanya.
Kalau Anda mengunjungi Kota Ternate, tak ada salahnya mampir di Kedaton Sultan Ternate untuk menemukan beragam warisan peninggalan Kesultanan Ternate.
Berlokasi di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate merupakan museum sejarah karena koleksi yang dipamerkan adalah benda-benda yang berasal dari Kesultanan Ternate dan dari sisa perang pada masa kedatangan orang-orang Eropa di Maluku dan Maluku Utara pada abad ke-15.
Museum ini berbentuk segi delapan dibangun tahun 1813 oleh seorang arsitektur asal China. Berlokasi di bukit Limau dengan bentuk menyerupai seekor singa yang sedang duduk bertopang dengan kedua kaki depannya menghadap ke laut dan dilatarbelakangi Gunung Gamalama. Dari sinilah sejarah pemerintahan Kesultanan Ternate yang pertama dimulai hingga mencapai kejayaannya lalu kemudian direnggut oleh bangsa kolonial.
Di antara koleksi berbagai peninggalan bangsa Eropa, museum ini juga memiliki sebuah mahkota yang unik dan sakral yang tidak dimiliki istana lainnya di Indonesia, bahkan di dunia.
Itu karena mahkota ini memiliki rambut yang dapat tumbuh layaknya manusia sehingga menjadi satu kewajiban untuk melakukan upacara ritual istampa atau pemotongan rambut mahkota setiap satu tahun sekali setiap hari raya Idul Adha. Mahkota ini diperkirakan telah berumur 500 tahun sejak sultan yang pertama berkuasa.
Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate memiliki banyak koleksi mulai dari benda geologi, arkeologi, etnografi, sejarah, numismatik/heraldik, filologi, teknologi, seni rupa, hingga keramik. Untuk masuk ke tempat ini pengunjung tidak dipungut biaya.
Dibangun 24 November 1813 oleh Sultan Muhammad Ali dengan luas bangunan 1500 m² di atas tanah seluas 1,5 ha. Sejak 1981 pengelolaan bangunan diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan meskipun dalam kesehariannya masih digunakan sebagai kediaman Sultan. Tempat ini baru tahun 1982 diresmikan Menteri Kebudayaan saat itu, Daud Joesoef.
Bangunan Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate adalah salah satu Istana Kesultanan yang menjadi situs peninggalan sejarah dan harus dilindungi dan dijaga dari kerusakan, dilestarikan dan dimanfaatkan sesuai Undang-undang Benda Cagar Budaya.
Anda dapat berkeliling menikmati bermacam-macam benda warisan Kesultanan Ternate dan pendatang Eropa di sini. Fasilitas yang tersedia adalah ruang pameran tetap dan ruang penyimpanan koleksi. Ada singgasana Sultan Ternate yang berwarna emas begitu megah terpajang di museum ini. Selain itu Anda dapat pula melihat peralatan untuk upacara dan acara kesultanan.
Di dalam kedaton Anda dapat melihat benda-benda peninggalan milik kesultanan yang khas serta bernilai sejarah seperti mahkota dan Al-Quran tulisan tangan yang tertua di Indonesia serta berbagai peralatan perang.
Amatilah bagaimana mahkota sultan dengan sejumlah perhiasan batu permata, emas, perak, intan, berlian mira, zamrud akik dan shafir. Masyarakat adat Ternate menyebut mahkota dalam bahasa daerah stampa.
Di depan istana terhampar lapangan Sunyie Ici dan Sunyie Lamo yang biasanya dipergunakan untuk prosesi upacara adat.
Pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terasa. Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan Nusantara bagian timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakup agama, adat istiadat dan bahasa.
Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh Sultan Zainal Abidin kemudian menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku.
Selain itu keberhasilan rakyat Ternate di bawah Sultan Baabullah dalam mengusir Portugis tahun 1575 merupakan kemenangan pertama pihak pribumi Nusantara atas kekuatan Barat. Kemenangan rakyat Ternate tersebut telah menunda penjajahan Barat di Nusantara selama 100 tahun sekaligus memperkokoh kedudukan Islam di Indonesia Timur.
Untuk menuju Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate sangat mudah. Jika melalui Bandara Baabullah, Anda tinggal melanjutkan perjalanan ke museum sejauh 3,5 km. Dari Pelabuhan Ahmad Yani jaraknya sekitar 1,5 km. Apabila Anda melalui Terminal Gamalama maka jaraknya tidak jauh, sekitar 0,5 km.
Kota Ternate
Kalau Anda mengunjungi Kota Ternate, tak ada salahnya mampir di Kedaton Sultan Ternate untuk menemukan beragam warisan peninggalan Kesultanan Ternate.
Berlokasi di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate merupakan museum sejarah karena koleksi yang dipamerkan adalah benda-benda yang berasal dari Kesultanan Ternate dan dari sisa perang pada masa kedatangan orang-orang Eropa di Maluku dan Maluku Utara pada abad ke-15.
Museum ini berbentuk segi delapan dibangun tahun 1813 oleh seorang arsitektur asal China. Berlokasi di bukit Limau dengan bentuk menyerupai seekor singa yang sedang duduk bertopang dengan kedua kaki depannya menghadap ke laut dan dilatarbelakangi Gunung Gamalama. Dari sinilah sejarah pemerintahan Kesultanan Ternate yang pertama dimulai hingga mencapai kejayaannya lalu kemudian direnggut oleh bangsa kolonial.
Di antara koleksi berbagai peninggalan bangsa Eropa, museum ini juga memiliki sebuah mahkota yang unik dan sakral yang tidak dimiliki istana lainnya di Indonesia, bahkan di dunia.
Itu karena mahkota ini memiliki rambut yang dapat tumbuh layaknya manusia sehingga menjadi satu kewajiban untuk melakukan upacara ritual istampa atau pemotongan rambut mahkota setiap satu tahun sekali setiap hari raya Idul Adha. Mahkota ini diperkirakan telah berumur 500 tahun sejak sultan yang pertama berkuasa.
Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate memiliki banyak koleksi mulai dari benda geologi, arkeologi, etnografi, sejarah, numismatik/heraldik, filologi, teknologi, seni rupa, hingga keramik. Untuk masuk ke tempat ini pengunjung tidak dipungut biaya.
Dibangun 24 November 1813 oleh Sultan Muhammad Ali dengan luas bangunan 1500 m² di atas tanah seluas 1,5 ha. Sejak 1981 pengelolaan bangunan diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan meskipun dalam kesehariannya masih digunakan sebagai kediaman Sultan. Tempat ini baru tahun 1982 diresmikan Menteri Kebudayaan saat itu, Daud Joesoef.
Bangunan Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate adalah salah satu Istana Kesultanan yang menjadi situs peninggalan sejarah dan harus dilindungi dan dijaga dari kerusakan, dilestarikan dan dimanfaatkan sesuai Undang-undang Benda Cagar Budaya.
Anda dapat berkeliling menikmati bermacam-macam benda warisan Kesultanan Ternate dan pendatang Eropa di sini. Fasilitas yang tersedia adalah ruang pameran tetap dan ruang penyimpanan koleksi. Ada singgasana Sultan Ternate yang berwarna emas begitu megah terpajang di museum ini. Selain itu Anda dapat pula melihat peralatan untuk upacara dan acara kesultanan.
Di dalam kedaton Anda dapat melihat benda-benda peninggalan milik kesultanan yang khas serta bernilai sejarah seperti mahkota dan Al-Quran tulisan tangan yang tertua di Indonesia serta berbagai peralatan perang.
Amatilah bagaimana mahkota sultan dengan sejumlah perhiasan batu permata, emas, perak, intan, berlian mira, zamrud akik dan shafir. Masyarakat adat Ternate menyebut mahkota dalam bahasa daerah stampa.
Di depan istana terhampar lapangan Sunyie Ici dan Sunyie Lamo yang biasanya dipergunakan untuk prosesi upacara adat.
Pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terasa. Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan Nusantara bagian timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakup agama, adat istiadat dan bahasa.
Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh Sultan Zainal Abidin kemudian menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku.
Selain itu keberhasilan rakyat Ternate di bawah Sultan Baabullah dalam mengusir Portugis tahun 1575 merupakan kemenangan pertama pihak pribumi Nusantara atas kekuatan Barat. Kemenangan rakyat Ternate tersebut telah menunda penjajahan Barat di Nusantara selama 100 tahun sekaligus memperkokoh kedudukan Islam di Indonesia Timur.
Untuk menuju Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate sangat mudah. Jika melalui Bandara Baabullah, Anda tinggal melanjutkan perjalanan ke museum sejauh 3,5 km. Dari Pelabuhan Ahmad Yani jaraknya sekitar 1,5 km. Apabila Anda melalui Terminal Gamalama maka jaraknya tidak jauh, sekitar 0,5 km.
Istana Kesultanan Ternate
Istana Kesultanan Ternate terletak di dataran pantai di Kampung
Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Provinsi Maluku Utara. Letak
Istana Kesultanan Ternate tidak jauh dari pusat kota
Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur nusantara sejak abad XIII hingga abad XVII. Di masa keemasannya, yakni pada abad XVI, kekuasaan kesultanan membentang mulai dari seluruh wilayah di Maluku, Sulawesi Utara, kepulauan-kepulauan di Filipina selatan, hingga kepulauan Marshall di pasifik.
Pada tanggal 7 Desember 1976, Istana Kesultanan Ternate dimasukkan sebagai benda cagar budaya. Para ahli waris Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Muda Mudzafar Syah, menyerahkan istana kesultanan ini kepada Pemerintah Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dipugar, dipelihara dan dilestarikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Istana ini dipagari oleh dinding berketinggian lebih dari 3 meter, yang menyerupai benteng. Di lingkungan istana ini juga terdapat komplek pemukiman raja dan keluarganya, dan komplek makam para pendahulu kesultanan. Istana bergaya Eropa yang menghadap ke arah laut ini, berada dalam satu komplek dengan mesjid kesultanan yang didirikan oleh Sultan Hamzah, Sultan Ternate ke-9.
Desain interior istana penuh dengan hiasan emas. Di ruang kamar bagian dalam terdapat peninggalan pakaian dari sulaman benang emas yang mewah, perhiasan-perhiasan dari emas dan kalung raksasa dari emas murni, mahkota, kelad bahu, kelad lengan, giwang, anting-anting, cincin, dan gelang yang hampir kesemuanya terbuat dari emas. Hal ini merupakan indikator bahwa Kesultanan Ternate pernah mengalami masa kejayaan.
Di samping itu, istana megah ini juga menyimpan, merawat dan memamerkan benda-benda pusaka milik kesultanan, seperti senjata (senapan, meriam kecil, peluru-peluru bulat, tombak, parang dan perisai), pakaian besi, pakaian kerajaan, topi-topi perang, alat-alat rumah tangga, dan naskah-naskah kuno (Al-Quran, maklumat, dan surat-surat perjanjian).
Tidak jauh dari istana, terdapat warung-warung yang berjualan cinderamata dan makanan khas Maluku Utara seperti, papeda (sagu), ketam kenari, halua kenari, bagea, serta ikan hasil olahan, seperti ikan fufu ( ikan asap) dan gohu ikan
Kembali Ke Wisata Maluku Utara
Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur nusantara sejak abad XIII hingga abad XVII. Di masa keemasannya, yakni pada abad XVI, kekuasaan kesultanan membentang mulai dari seluruh wilayah di Maluku, Sulawesi Utara, kepulauan-kepulauan di Filipina selatan, hingga kepulauan Marshall di pasifik.
Pada tanggal 7 Desember 1976, Istana Kesultanan Ternate dimasukkan sebagai benda cagar budaya. Para ahli waris Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Muda Mudzafar Syah, menyerahkan istana kesultanan ini kepada Pemerintah Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dipugar, dipelihara dan dilestarikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Istana ini dipagari oleh dinding berketinggian lebih dari 3 meter, yang menyerupai benteng. Di lingkungan istana ini juga terdapat komplek pemukiman raja dan keluarganya, dan komplek makam para pendahulu kesultanan. Istana bergaya Eropa yang menghadap ke arah laut ini, berada dalam satu komplek dengan mesjid kesultanan yang didirikan oleh Sultan Hamzah, Sultan Ternate ke-9.
Desain interior istana penuh dengan hiasan emas. Di ruang kamar bagian dalam terdapat peninggalan pakaian dari sulaman benang emas yang mewah, perhiasan-perhiasan dari emas dan kalung raksasa dari emas murni, mahkota, kelad bahu, kelad lengan, giwang, anting-anting, cincin, dan gelang yang hampir kesemuanya terbuat dari emas. Hal ini merupakan indikator bahwa Kesultanan Ternate pernah mengalami masa kejayaan.
Di samping itu, istana megah ini juga menyimpan, merawat dan memamerkan benda-benda pusaka milik kesultanan, seperti senjata (senapan, meriam kecil, peluru-peluru bulat, tombak, parang dan perisai), pakaian besi, pakaian kerajaan, topi-topi perang, alat-alat rumah tangga, dan naskah-naskah kuno (Al-Quran, maklumat, dan surat-surat perjanjian).
Tidak jauh dari istana, terdapat warung-warung yang berjualan cinderamata dan makanan khas Maluku Utara seperti, papeda (sagu), ketam kenari, halua kenari, bagea, serta ikan hasil olahan, seperti ikan fufu ( ikan asap) dan gohu ikan
Kembali Ke Wisata Maluku Utara
Subscribe to:
Comments (Atom)










